Anangcozz.com – Ada perjalanan yang bukan sekadar tentang berapa jauh roda berputar, tetapi juga tentang cerita, persaudaraan, keindahan alam, dan jejak sejarah yang tersimpan di setiap tempat yang kita singgahi. Itulah yang akan menjadi bagian dari perjalanan kami, delapan peserta blogger dan vlogger Jawa Timur, dalam touring menuju gelaran akbar Honda Bikers Day 2026 di Ambarawa, Jawa Tengah.
Perjalanan menuju Honda Bikers Day 2026 kali ini semakin menarik dengan kehadiran tiga model sepeda motor Honda yang menemani perjalanan kami, yaitu Honda ADV160 RoadSync, Honda PCX160 RoadSync, dan Honda Vario Evo 160.

Ketiganya memiliki karakter berbeda, Honda ADV160 RoadSync hadir dengan karakter adventure dengan desainnya yang tangguh terasa selaras dengan rute pegunungan yang akan kami lalui, mulai dari kawasan Sarangan, Cemoro Sewu, hingga tanjakan Kemuning menuju Candi Cetho. Sementara itu, Honda PCX160 RoadSync menawarkan karakter skutik premium dengan desain elegan yang mendukung perjalanan jarak jauh. Tak ketinggalan, Honda Vario Evo 160 turut meramaikan perjalanan dengan karakter sporty yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pencinta motor matik.
Perjalanan ini dimulai dari MPM Madiun, titik kumpul sekaligus titik awal petualangan kami. Delapan peserta dengan semangat yang sama bersiap menempuh perjalanan lintas daerah, menikmati panorama alam, sekaligus menyusuri peninggalan sejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban di tanah Jawa.
Bukan sekadar touring biasa. Kali ini, perjalanan kami akan menggabungkan sensasi berkendara di jalur pegunungan yang menantang dengan pengalaman napak tilas sejarah, mulai dari kawasan lereng Gunung Lawu hingga Kota Solo.
Pagi itu (Jumat 23/10/2026) perjalanan hari pertama dimulai dari MPM Madiun. Setelah seluruh peserta berkumpul dan melakukan persiapan, kami pun bersiap meninggalkan Kota Madiun untuk menempuh rute yang menawarkan pemandangan alam sekaligus tantangan tersendiri bagi para pengendara.
Rute yang kami pilih membawa kami melewati Sarangan, Cemoro Sewu, Tawangmangu, hingga kawasan Mojosemi. Sepanjang perjalanan, suasana perkotaan dengan cuaca yang panas perlahan berganti dengan udara pegunungan yang sejuk, pepohonan hijau, dan jalanan berkelok yang mengikuti kontur lereng Gunung Lawu.

Jalur Sarangan menuju Cemoro Sewu menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Jalanan yang menanjak, tikungan demi tikungan, serta perubahan suhu udara menghadirkan sensasi touring yang berbeda. Di sisi jalan, panorama pegunungan sesekali terbuka, memperlihatkan keindahan alam yang seolah mengajak kami untuk sejenak berhenti dan mengabadikan momen.

Memasuki kawasan Tawangmangu dan Mojosemi, suasana perjalanan semakin terasa istimewa. Hijaunya pepohonan, dan udara yang menyegarkan menjadi teman perjalanan kami.
Rehat Sejenak di Ndoro Donker Tea House
Setelah melewati perjalanan yang cukup menguras konsentrasi, tibalah saatnya kami beristirahat dan menikmati makan siang di Ndoro Donker, kawasan Kemuning yang dikenal dengan suasana perkebunan tehnya. Pemandangan hamparan kebun teh yang menghijau menjadi suguhan istimewa di tengah perjalanan. Udara sejuk, suasana yang tenang, serta panorama perbukitan membuat tempat ini terasa cocok untuk melepas penat setelah melewati jalur pegunungan.

Namun, waktu istirahat tidak berlangsung terlalu lama. Masih ada satu destinasi bersejarah yang menunggu untuk kami kunjungi, yaitu Candi Cetho di lereng Gunung Lawu.
Menaklukkan Tanjakan Kemuning Menuju Candi Cetho
Dari Ndoro Donker, perjalanan berlanjut menuju Candi Cetho dengan melewati jalanan Kemuning yang semakin menanjak. Inilah salah satu bagian perjalanan yang menghadirkan tantangan sekaligus pemandangan yang memanjakan mata.
Jalan yang berkelok dengan kemiringan cukup terasa menuntut pengendara untuk lebih cermat mengatur kecepatan dan menjaga kendali kendaraan. Di beberapa titik, pemandangan perkebunan teh dan perbukitan terbentang luas, memberikan pengalaman berkendara yang sulit dilupakan.
Semakin mendekati kawasan Candi Cetho, suasana pegunungan terasa semakin kental. Tujuan kami kali ini bukan sekadar tempat wisata, melainkan sebuah peninggalan masa lalu yang menyimpan kisah panjang peradaban Jawa.
Candi Cetho merupakan kompleks candi bercorak Hindu dari masa akhir Majapahit yang berada di lereng barat Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Arsitekturnya yang berundak, gerbang yang khas, serta suasana alam di sekelilingnya memberikan kesan seolah membawa pengunjung kembali ke masa ratusan tahun silam.

Candi Cetho merupakan kompleks candi bercorak Hindu dari masa akhir Majapahit yang berada di lereng barat Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Arsitekturnya yang berundak, gerbang yang khas, serta suasana alam di sekelilingnya memberikan kesan seolah membawa pengunjung kembali ke masa ratusan tahun silam.
Dari candi Cetho ke Masjid Laweyan di Solo
Meninggalkan kawasan Candi Cetho, kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Laweyan di Solo. Jika Candi Cetho membawa kami menelusuri jejak kejayaan Hindu pada masa akhir Majapahit, Masjid Laweyan menghadirkan cerita tentang perkembangan Islam dan tumbuhnya kekuasaan kerajaan Islam di tanah Jawa.
Masjid Laweyan dikenal sebagai salah satu masjid bersejarah di Surakarta.

Berada di kawasan Kampung Laweyan yang juga terkenal dengan tradisi batiknya, masjid ini memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektur yang menarik untuk dipelajari. Peralihan dari masa Majapahit menuju tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam, termasuk Mataram Islam, merupakan bagian penting dari sejarah Jawa. Proses tersebut berlangsung secara bertahap melalui berbagai dinamika politik, sosial, budaya, dan penyebaran agama.
Candi Cetho dan Masjid Laweyan menghadirkan dua latar sejarah yang berbeda, tetapi sama-sama menjadi pengingat akan panjangnya perjalanan peradaban di tanah Jawa.
Dan pada akhirnya, Honda Bikers Day 2026 di Ambarawa menjadi tujuan besar yang menanti di depan. Namun, sebelum sampai ke sana, setiap kilometer perjalanan sudah memberikan pengalaman tersendiri. So, tetap stay tune terus bersama kami di perjalanan selanjutnya hingga Ambarawa.

Leave a Reply